Karhutla Masih Dominasi, BNPB Catat Sejumlah Bencana Terjadi di Berbagai Daerah

oleh

JAKARTA, MANAKARRA.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman utama di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam laporan perkembangan bencana periode 3–4 Juni 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai daerah, mulai dari angin kencang, banjir, hingga karhutla yang masih berlangsung di sejumlah provinsi.

Selain bencana karhutla, cuaca ekstrem yang melanda beberapa wilayah juga memicu kerusakan permukiman dan menyebabkan warga terdampak.

Di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, angin kencang yang terjadi pada Rabu (3/6) menerjang empat gampong di Kecamatan Langkahan.

Sebanyak 58 kepala keluarga terdampak dan 58 unit rumah hunian sementara (huntara) mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.

Data BNPB mencatat, di Gampong Rumoh Rayeuk terdapat 11 unit huntara rusak berat, 20 unit rusak sedang, dan lima unit rusak ringan. Sementara di Gampong Geudumbak, empat unit rusak berat, empat unit rusak sedang, dan dua unit rusak ringan.

Di Gampong Buket Linteung tercatat tujuh unit huntara rusak berat serta satu fasilitas umum terdampak, sedangkan di Gampong Langkahan lima unit huntara rusak ringan masih dalam proses pendataan.

Tim gabungan BNPB bersama BPBD setempat telah melakukan asesmen dan penanganan di lokasi. Kondisi terkini dilaporkan telah kondusif, sementara masyarakat telah mengamankan barang-barang mereka ke lokasi yang lebih aman.

Di bagian timur Indonesia, banjir melanda Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut menyebabkan 150 kepala keluarga terdampak dan 10 warga terpaksa mengungsi.

Empat desa di Kecamatan Weda, yakni Desa Ake Ici, Fidi Jaya, Wedana, dan Nurweda, menjadi wilayah yang paling terdampak. Selain merendam 150 rumah warga, banjir juga mengganggu aktivitas masyarakat.

Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kabupaten Halmahera Tengah bersama Dinas Pekerjaan Umum melakukan normalisasi drainase di wilayah Kota Weda guna mempercepat surutnya genangan air. Hingga kini proses pendataan kerugian dan asesmen dampak masih terus dilakukan.

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian serius BNPB di sejumlah daerah.

Di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, luas lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 90 hektare. Tim gabungan berhasil memadamkan sekitar 80 hektare area terdampak, namun potensi perluasan kebakaran masih tinggi akibat cuaca panas dan angin kencang.

Karhutla juga masih terjadi di Kabupaten Aceh Barat dengan luas lahan terbakar mencapai 24,1 hektare. Upaya pemadaman terus difokuskan pada sejumlah titik api yang masih aktif, khususnya di Kecamatan Bubon.

Di Provinsi Riau, situasi karhutla masih menjadi perhatian nasional. BNPB mencatat total luas lahan terbakar sejak awal tahun 2026 telah mencapai 15.037,63 hektare.

Pemerintah Provinsi Riau masih menetapkan status siaga darurat karhutla yang berlaku hingga 30 November 2026. Dalam perkembangan terbaru, terjadi penambahan titik kebakaran seluas sekitar satu hektare di Desa Tanjung Medan, Kabupaten Rokan Hulu, serta lima hektare di Desa Tanjung Kapal, Kabupaten Bengkalis.

Ancaman serupa juga terjadi di Kalimantan Tengah. Hingga 2 Juni 2026, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 448,05 hektare. Pada laporan terbaru, terdapat penambahan kebakaran seluas 0,11 hektare di Kota Palangka Raya. Pemerintah daerah masih memberlakukan status siaga darurat karhutla hingga 10 Juni mendatang.

Berbeda dengan daerah lainnya, kondisi karhutla di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, mulai terkendali. Kebakaran yang sebelumnya melanda lahan seluas 98,28 hektare dilaporkan telah berhasil dipadamkan dan situasi di lapangan saat ini dinyatakan kondusif.

BNPB mengingatkan bahwa berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG, sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami cuaca panas disertai angin kencang, sementara wilayah lainnya berpeluang diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan maupun bencana hidrometeorologi.

Karena itu, masyarakat diminta untuk tidak melakukan pembakaran lahan, meningkatkan kewaspadaan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau potensi ancaman bencana di lingkungan sekitar.

“Pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam mengurangi risiko bencana. Kesiapsiagaan, deteksi dini, dan respons cepat seluruh unsur menjadi kunci utama untuk melindungi masyarakat dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan,” demikian imbauan BNPB dalam laporan resminya.

BNPB juga meminta pemerintah daerah memastikan kesiapan personel, peralatan, serta langkah mitigasi di wilayah rawan bencana, khususnya daerah yang memasuki musim kemarau dan rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, relawan, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat upaya pencegahan, penanganan, serta percepatan pemulihan pascabencana.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *