MANAKARRA.COM – Siang itu matahari bersinar terik di atas hamparan kebun sawit di Lingkungan Taruminding, Desa Bambu, Kabupaten Mamuju. Angin berembus perlahan, menggoyangkan pelepah-pelepah sawit yang menjadi satu-satunya atap bagi belasan anak yang duduk melingkar di atas tikar lusuh.
Tidak ada ruang kelas. Tidak ada meja. Tidak ada kursi. Tidak ada bel sekolah yang berbunyi. Yang ada hanyalah mata-mata kecil yang menatap penuh harapan kepada relawan yang berdiri di depan mereka.
Di tangan sebagian anak tidak terlihat buku tulis, apalagi pensil yang baru. Ada yang hanya memperhatikan karena tidak memiliki alat tulis. Ada yang menghafal setiap kata yang diucapkan relawan, berharap ingatan mampu menggantikan lembaran kertas yang tak mereka punya.
Mungkin bagi sebagian orang, pensil hanyalah benda kecil yang bisa dibeli kapan saja.

Namun di tempat itu, sebuah pensil adalah kesempatan untuk menulis nama sendiri, menulis angka pertama, bahkan menulis cita-cita yang selama ini hanya tersimpan di dalam hati.
Di bawah pohon sawit itulah mimpi-mimpi kecil sedang tumbuh.
Mimpi menjadi dokter yang mengobati orang sakit.
Mimpi menjadi guru yang mengajar anak-anak desa.
Mimpi menjadi polisi yang menjaga kampung halaman.
Dan ada pula anak yang hanya tersenyum ketika ditanya ingin menjadi apa, seolah ia takut mimpinya terlalu tinggi untuk diucapkan.

Namun mereka memiliki satu kesamaan.
Mereka tidak pernah kehilangan harapan.
Setiap pekan mereka datang berjalan kaki menyusuri jalan desa, melewati kebun dan tanah merah, hanya untuk mengikuti kelas sederhana yang diinisiasi Relawan Desa Mengajar, sebuah gerakan pendidikan yang lahir dari kepedulian Komunitas Anak Manakarra (KOMARA).
Tidak ada yang dibayar.
Tidak ada yang diwajibkan.
Yang menggerakkan semuanya hanyalah keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, di mana pun mereka dilahirkan.

Saharuddin Nasrun, salah satu relawan, masih mengingat bagaimana semuanya dimulai.
Ia dan teman-temannya memilih datang membawa buku, waktu, dan tenaga, ketika melihat banyak anak membutuhkan pendampingan belajar.
“Kami tidak memiliki ruang belajar. Anak-anak belajar di bawah pohon sawit. Ketika hujan turun, kegiatan sering terhenti karena kami harus mencari tempat berteduh. Bahkan anak-anak datang tanpa membawa alat tulis karena keterbatasan yang mereka miliki. Tetapi yang membuat kami terus bertahan adalah semangat mereka untuk belajar. Semangat itulah yang tidak pernah habis,” tuturnya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun di baliknya tersimpan kenyataan yang tidak semua orang pernah lihat.
Anak-anak yang datang tanpa buku.
Anak-anak yang datang tanpa pensil.
Anak-anak yang tetap tersenyum meski belajar di atas tanah.
Ironisnya, di saat sebagian anak di kota mengeluhkan tugas sekolah dan gawai yang lambat, anak-anak di Desa Bambu justru memperebutkan kesempatan untuk belajar, walau hanya di bawah rindangnya pohon sawit.
Minggu, 7 Juni 2026, suasana itu berubah.
Untuk pertama kalinya, ruang belajar sederhana tersebut kedatangan tamu yang ingin melihat langsung perjuangan mereka.
Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Khalil Gibran, hadir bersama Dirbinmas Polda Sulbar Kombes Pol Prasetya Sejati, S.I.K., dan Kabiddokkes Polda Sulbar Kombes Pol dr. Effri Susanto, M.M.
Mereka menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak itu belajar tanpa ruang kelas yang layak.
Tidak sedikit yang terdiam.
Bukan karena tidak ada kata-kata.
Melainkan karena kenyataan di depan mata berbicara jauh lebih keras daripada pidato apa pun.
Khalil Gibran mengaku tersentuh melihat semangat anak-anak Desa Bambu.
“Jujur, saya sangat terharu. Di tengah keterbatasan yang ada, anak-anak ini tetap memiliki semangat belajar yang luar biasa. Mereka tidak memiliki ruang belajar yang layak, bahkan sebagian masih kekurangan perlengkapan belajar. Tetapi mereka tetap hadir untuk menuntut ilmu. Ini adalah pemandangan yang menyentuh hati siapa pun yang melihatnya,” katanya.
Hari itu, bantuan berupa papan tulis, spidol, dan penghapus diserahkan kepada Relawan Desa Mengajar.
Nilainya mungkin tidak besar.
Namun ketika papan tulis itu diletakkan di bawah pohon sawit, anak-anak langsung mengerubunginya.
Ada yang menulis nama sendiri untuk pertama kalinya.
Ada yang menulis huruf demi huruf dengan tangan gemetar.
Ada yang menggambar rumah kecil dengan mata berbinar.
Dan ada yang menuliskan cita-citanya dengan sangat sederhana.
Mungkin mereka belum memahami arti pembangunan.
Mereka belum mengerti tentang kebijakan, anggaran, atau statistik pendidikan.
Yang mereka tahu hanyalah satu hal.
Hari itu mereka memiliki papan tulis.
Hari itu mereka merasa diperhatikan.
Hari itu mereka percaya bahwa mimpi mereka tidak sedang berjalan sendirian.

Menjelang sore, satu per satu anak pulang meninggalkan tikar dan pohon sawit yang selama ini menjadi ruang belajar mereka.
Namun ada sesuatu yang tetap tinggal di tempat itu.
Bukan papan tulis.
Bukan spidol.
Bukan pula jejak kaki kecil yang menempel di tanah.
Yang tertinggal adalah harapan.
Harapan bahwa suatu hari nanti, anak-anak yang pernah belajar di bawah pohon sawit ini akan berdiri di ruang-ruang besar sebagai dokter, guru, polisi, pemimpin, atau apa pun yang mereka impikan.
Karena sejarah selalu membuktikan, masa depan tidak selalu lahir dari gedung sekolah yang megah.
Kadang ia tumbuh dari tanah yang sederhana, dari pensil yang hampir habis, dari buku yang lusuh, dari relawan yang memilih mengabdi, dan dari anak-anak yang menolak menyerah pada keadaan.
Di bawah pohon sawit itu, pelajaran terbesar bukanlah tentang membaca atau berhitung.
Melainkan tentang bagaimana harapan mampu hidup, bahkan ketika hampir tidak ada apa pun yang dimiliki selain mimpi.
