MAMUJU, MANAKARRA.COM – Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat Pantai Manakarra, sedikit orang yang menyadari bahwa tanah yang mereka pijak menyimpan kisah yang jauh lebih tua dari usia Kabupaten Mamuju, bahkan lebih tua dari kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Sulawesi Barat.
Di balik gedung pemerintahan, jalan raya, dan pemukiman yang terus berkembang, tersimpan jejak peradaban yang hingga hari ini masih menyisakan banyak pertanyaan.
Pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab. Siapa sebenarnya orang-orang pertama yang mendiami Mamuju? Dari mana asal Kerajaan Mamuju? Dan benarkah Mamuju merupakan bagian dari Mandar, atau justru memiliki identitasnya sendiri yang berdiri terpisah?
Jika ingin menelusuri sejarah Mamuju, perjalanan harus dimulai dari pedalaman.
Jauh di hulu Sungai Karama, terdapat wilayah yang dikenal sebagai Kalumpang. Bagi sebagian orang, Kalumpang hanyalah sebuah kecamatan yang jauh dari pusat kota. Namun bagi para arkeolog, Kalumpang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah Indonesia.
Penelitian arkeologi menunjukkan kawasan ini telah dihuni manusia sejak sekitar 3.600 tahun lalu. Berbagai temuan berupa kapak batu, beliung, tembikar, hingga peninggalan megalitik ditemukan di wilayah tersebut. Para peneliti bahkan menyebut Kalumpang sebagai salah satu situs Neolitik tertua di Indonesia yang berkaitan dengan migrasi penutur Austronesia.
Di tempat inilah, sejarah Mamuju tidak lagi berbicara tentang raja dan kerajaan, tetapi tentang manusia-manusia pertama yang membangun kehidupan di Sulawesi Barat.
Mereka hidup dari sungai, berburu di hutan, dan perlahan membangun peradaban yang kemudian melahirkan berbagai kelompok masyarakat yang masih hidup hingga sekarang.
Berabad-abad setelah masa prasejarah itu berlalu, muncul kerajaan-kerajaan kecil di pesisir barat Sulawesi.
Salah satu yang paling sering disebut dalam berbagai kajian sejarah adalah Kerajaan Kurri-Kurri yang berada di kawasan Simboro.
Sayangnya, nama kerajaan ini perlahan tenggelam dalam ingatan masyarakat.
Padahal berbagai sumber sejarah dan penelitian menyebut Kurri-Kurri memiliki peran penting dalam pembentukan identitas awal Mamuju. Bahkan sejumlah kajian menyebut Kerajaan Mamuju lahir dari penyatuan Kerajaan Kurri-Kurri dengan Kerajaan Langga Monar. Penyatuan tersebut kemudian melahirkan sebuah kerajaan baru yang dikenal sebagai Kerajaan Mamuju.
Jejak kejayaan Kurri-Kurri masih menjadi bahan diskusi hingga hari ini.
Sebagian peneliti menunjuk berbagai peninggalan dan situs di wilayah Simboro sebagai petunjuk bahwa kerajaan tersebut pernah memainkan peran penting dalam jalur perdagangan pesisir Selat Makassar.
Ironisnya, meski menjadi nama sebuah kabupaten dan ibu kota provinsi, sejarah Kerajaan Mamuju sendiri masih menyimpan banyak ruang kosong.
Bahkan tokoh adat dan budayawan pernah mempertanyakan kejelasan data otentik mengenai asal-usul kerajaan tersebut.
Masyarakat masih mencari jawaban mengenai siapa pendirinya, bagaimana silsilah rajanya, serta bagaimana proses pembentukan kerajaan itu sebenarnya terjadi. Hingga kini, sebagian besar informasi masih bertumpu pada tradisi lisan dan catatan yang belum sepenuhnya lengkap.
Karena itulah, sejarah Mamuju masih terus menjadi ruang penelitian yang terbuka. Banyak sejarawan percaya bahwa masih ada bagian-bagian penting sejarah yang belum berhasil disusun secara utuh.
Di tengah pencarian sejarah itu, muncul satu perdebatan yang terus hidup di masyarakat.
Apakah Mamuju adalah Mandar? Atau Mamuju adalah Mamuju?
Dalam berbagai literatur, Mamuju sering dikaitkan dengan kebudayaan Mandar karena hubungan politik dan sejarah kerajaan-kerajaan pesisir yang tergabung dalam jaringan kekuasaan di pantai barat Sulawesi.
Namun tidak sedikit tokoh adat dan masyarakat yang memiliki pandangan berbeda. Mereka beranggapan bahwa Mamuju memiliki identitas tersendiri.
Alasannya sederhana. Mamuju memiliki bahasa sendiri. Mamuju memiliki kerajaan sendiri. Mamuju memiliki wilayah adat sendiri. Dan Mamuju memiliki sejarah yang berbeda dengan kerajaan-kerajaan Mandar di wilayah lain.
Bagi kelompok ini, menyebut Mamuju sebagai bagian dari Mandar dianggap terlalu menyederhanakan sejarah yang jauh lebih kompleks.
“Mamuju ya Mamuju.”
Kalimat itu sering terdengar dalam berbagai diskusi sejarah dan kebudayaan.
Bukan sebagai bentuk penolakan terhadap Mandar, melainkan sebagai upaya menegaskan bahwa identitas masyarakat Mamuju memiliki akar sejarahnya sendiri.
Perdebatan tersebut hingga kini belum menemukan titik akhir. Namun justru di situlah menariknya sejarah. Karena sejarah bukan hanya soal fakta masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memaknai identitasnya hari ini.
Perjalanan Mamuju tidak selalu berjalan mulus. Masa kemerdekaan membawa tantangan baru.
Pada dekade 1950-an, wilayah Mamuju turut merasakan dampak konflik DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Banyak daerah mengalami ketidakstabilan dan aktivitas masyarakat terganggu akibat konflik bersenjata yang berlangsung bertahun-tahun.
Namun sejarah terus bergerak. Kerajaan-kerajaan yang dahulu berdiri sendiri perlahan berubah menjadi wilayah administratif modern. Mamuju kemudian berkembang menjadi kabupaten dan pada tahun 2004 resmi menjadi ibu kota Provinsi Sulawesi Barat.
Sejak saat itu wajah kota berubah cepat. Gedung pemerintahan berdiri. Jalan-jalan diperlebar. Penduduk bertambah. Ekonomi tumbuh.
Namun di tengah perubahan itu, sejarah lama tetap tersimpan di balik bukit-bukit Kalumpang, pesisir Simboro, dan kampung-kampung tua yang masih menyimpan cerita dari generasi ke generasi.
Barangkali pertanyaan terbesar bukanlah siapa yang paling benar dalam menafsirkan sejarah Mamuju. Melainkan apakah masyarakat Mamuju sendiri telah cukup mengenal sejarah tanah kelahirannya.
Sebab sebelum menjadi ibu kota provinsi, sebelum menjadi kabupaten, sebelum menjadi kerajaan, bahkan sebelum nama Mamuju dikenal seperti sekarang, tanah ini telah lebih dahulu dihuni oleh manusia yang meninggalkan jejak peradaban ribuan tahun lalu.
Jejak-jejak itulah yang hari ini masih menunggu untuk diteliti, dituliskan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena sesungguhnya, sejarah Mamuju bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia adalah cerita tentang pencarian jati diri sebuah tanah yang hingga hari ini masih terus bertanya, Siapa sebenarnya kita, dan dari mana kita berasal?
