Forum Zilenial Sulbar Kecam Penggunaan Simbol Agama dalam Medali Mamuju Run, Tuntut Evaluasi Panitia

oleh

Mamuju — Polemik penyelenggaraan Mamuju Run Jilid 2 terus bergulir. Forum Zilenial Sulawesi Barat (Forzil Sulbar) secara tegas mengecam penggunaan simbol yang identik dengan agama tertentu pada medali event olahraga yang dijadwalkan berlangsung 8 November 2026 mendatang.

Founder Forum Zilenial Sulbar, Fadhil, yang juga merupakan alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Hasanuddin, menyatakan bahwa kemunculan simbol keagamaan dalam medali Mamuju Run adalah persoalan sensitivitas yang serius, bukan sekadar perkara desain.

“Yang paling mengherankan adalah munculnya simbol yang identik dengan agama tertentu pada medali event olahraga. Ini bukan sekadar persoalan desain atau selera. Simbol keagamaan adalah perkara sensitif, apalagi ketika event diikuti oleh masyarakat dengan latar belakang keyakinan yang beragam,” tegas Fadhil dalam pernyataannya kepada media.

Fadhil menyoroti bahwa Arca Sikendeng yang dijadikan elemen desain medali tidak merepresentasikan Mamuju secara umum. Ia menilai penggambaran arca tersebut identik dengan agama tertentu yang bertolak belakang dengan prinsip olahraga yang seharusnya bebas dari representasi agama.

“Kalau panitia memang ingin membuat event yang profesional dan bisa diterima semua kalangan, kenapa tidak menggunakan desain yang netral? Event lari seharusnya menyatukan orang lewat olahraga, bukan malah menghadirkan simbol yang berpotensi menimbulkan polemik soal keyakinan,” ujarnya.

Dalam konteks masyarakat Sulawesi Barat yang mayoritas Muslim, Fadhil menekankan bahwa panitia seharusnya lebih peka terhadap hal-hal seperti ini. Ia mengingatkan jangan sampai karena minimnya pertimbangan dan kurangnya pemahaman, sebuah medali justru menjadi sumber keresahan dan perdebatan agama.

“Ini bukan soal membenci agama lain. Ini soal sensitivitas, profesionalisme, dan kemampuan panitia membaca kondisi sosial masyarakatnya sendiri,” tegas Fadhil.

Tuntutan Evaluasi dan Penggantian Simbol

Forum Zilenial Sulbar secara resmi menuntut Polda Sulawesi Barat dan HIPMI Sulbar selaku penyelenggara untuk mengevaluasi kinerja panitia dan mengganti penggunaan simbol agama dalam medali event tersebut.

“Kalau desain medali saja tidak dipikirkan secara matang, bagaimana publik mau percaya bahwa keseluruhan event benar-benar dikelola secara profesional?” tanya Fadhil retoris.

Ia menegaskan bahwa Mamuju Run seharusnya menjadi kebanggaan daerah, bukan menjadi bahan pembicaraan karena kelalaian panitianya.

Sebelumnya, Mamuju Run Jilid 2 dijadwalkan berlangsung pada 8 November 2026 dengan target 4.500 peserta. Ketua panitia yang juga Ketua HIPMI Mamuju, Rafiul Nur, telah melakukan audiensi dengan Kapolda Sulbar Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta untuk meminta dukungan pengamanan dan kelancaran acara .

Dalam pertemuan tersebut, Kapolda Sulbar mengapresiasi inisiatif penyelenggaraan kegiatan yang dinilai mampu mendorong gaya hidup sehat. Kapolda juga menekankan pentingnya aspek keamanan dan keselamatan peserta, serta menyarankan agar kegiatan memiliki tema yang kuat dan ikon atau ciri khas yang menjadi daya tarik acara .

Namun, munculnya polemik terkait simbol keagamaan dalam medali menjadi catatan serius yang menuntut perhatian penyelenggara. Forum Zilenial Sulbar berharap tuntutan evaluasi dan penggantian simbol agama ini menjadi pembelajaran bagi panitia untuk lebih profesional dan sensitif terhadap keberagaman masyarakat Sulawesi Barat.